Minggu, 05 Mei 2019

Nana dan Pensil




 
















Created by:
Teti Heryanti
2017.4.5.1.00729
PIAUD 4A

















Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan melewati jalan sepi sepulang sekolah. Ia adalah Nana, seorang gadis kecil yang kehidupanya sederhana dan sedang duduk di kelas 4 SD. Hingga suatu ketika, di pertengahan jalan menuju rumah, Nana dikejutkan oleh sesuatu yang jatuh dari langit. Dan sesuatu itu menghasilkan suara gaduh di balik semak-semak. Dan ia pun merasa penasaran dengan hal tersebut. Hingga ia mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjatuh di balik semak-semak itu. Ia mulai mendekat, mendekat dan mendekat. Ia menyibakkan setiap semak-semak yang menghalangi matanya.











Setelah beberapa saat kemudian. Nana terkejut lagi dengan benda yang ada di balik semak-semak itu. Matanya tertuju pada benda berwarna emas berbentuk kotak seperti tempat pensil. Dia mulai bingung dengan benda itu. Harus ia apakan benda itu? Sebab benda itu sangat bercahaya.







                                                                                     












Ketika Nana mencoba membukanya. Benda itu terbuka dengan sendirinya. Sekali lagi, ia terkejut dengan peristiwa itu. Ada sebuah pensil biasa yang ada didalam benda itu, tetapi pensil itu memiliki ujung yang aneh. Seperti kepala seorang kurcaci namun menggemaskan. Dan di dalamnya ada secarik kertas.








 























Sebelum Nana mengambilnya. Ia melihat ada secarik kertas dalam benda itu. Lalu, ia mengambil kertas itu. Terdapat tulisan di dalamnya. Ia mulai membacanya, "gunakanlah untuk kebaikan. Jika tidak, kamu akan menyesal. Dan jangan sampai pensil ini jatuh ke tangan orang yang serakah". Ia hanya membaca saja tanpa memahami makna dalam tulisan tersebut. Lalu, ia mengambil pensil itu dan meninggalkan kertas itu dalam kotak, lalu menutupnya rapat-rapat. Ia tengok kanan dan kiri lalu pulang menuju rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia ingin cepat-cepat sampai dirumahnya.



 













Sesampainya dirumah, Nana langsung masuk ke dalam kamarnya dan ingin cepat menggunakan pensil itu, ia penasaran sebenarnya pensil apa yang ia temukan itu. Ia mulai mencari kertas atau buku untuk mencoba menulis atau membuat gambar yang ingin ia buat. Nana adalah gadis kelas 4 yang sangat pandai menggambar, ia pun sering memenangkan berbagai perlombaan menggambar dan mewarnai. Terbukti dengan banyaknya piala yg berjajar rapi di dekat meja belajarnya.


















Lalu Nana menuliskan apa yang ada dipikirannya, yaitu menggambar sepasang sepatu. Karena, saat ulang tahunnya bulan lalu ia menginginkan kado sepatu dari ibunya, namun karena ibunya memiliki ekonomi yang pas-pasan, maka ibunya tidak bisa menghadiahinya sepasang sepatu. Sehingga ia berangan-angan memiliki sepatu baru.











Setelah selesai menggambar, ada hal ajaib terjadi yaitu sebuah cahaya yang keluar dari kertas yang digambar oleh Nana. Kemudian, muncullah sepasang sepatu yang sama persis dengan yang digambar olehnya. Ia benar-benar terkesima melihatnya, sampai dia bingung dengan apa yang dilihatnya. Antara bingung dan senang melihat sepatu yang ada didepannya











Nana mulai memegang dan membolak balik sepatu yang ia gambar, ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi, kemudian untuk meyakinkanya lagi, dia berniat mengulangi hal yang sama yaitu membuka lembaran kertas kosong yang baru untuk menggambar sesuatu lagi, Kemudian ia memikirkan sebuah tas yang ia inginkan. Dan hal ajaib  pun terjadi lagi. Ada sebuah tas yang keluar dari dalam kertas itu.








Nana mencoba untuk tidak bercerita kepada ibunya tentang hal ini. Dan menyimpannya rapat-rapat. Ia pun menggunakan pensil itu dalam segala kondisi. Sampai suatu ketika di rumahnya, ibunya tidak memiliki sesuatu untuk dimasak. Tapi, ia menggunakan pensil itu untuk menggambar ayam goreng, lauk pauk dan buah-buahan. Bahkan tidak hanya sekali ia melakukan hal tersebut. Sehingga ibunya curiga dengan hal tersebut.


 


















Di sekolah pun Nana menggunakan pensil itu namun tidak di hadapan teman-temannya. Karena ia khawatir akan ketahuan oleh teman-temannya. Tapi ada beberapa temannya yang merasa curiga dengan penampilannya yang dulu biasa-biasa saja namun sekarang penampilannya berubah drastis dengan baju seragam baru, sepatu baru, tas baru dan lain-lain. Ia semakin modern untuk keluarga yang sederhana. Bahkan teman-temannya merasa heran dengannya yang selalu memberikan sedekah pada orang miskin dan yatim piatu. Padahal ia juga adalah anak yatim yang ibunya harus banting tulang menjadi buruh cuci di desa seberang untuk memenuhi kebutuhannya.


 







Semenjak Nana memiliki pensil ajaib itu, ia semakin menjauhi teman-temannya. Ia kurang bergaul dengan temannya bahkan hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya bersama pensil ajaib itu. Sekali waktu, ia mempraktekkan hal ajaib itu saat di sekolah, tapi mungkin ini adalah hari yang sial baginya. Diam-diam seorang temannya memperhatikan gerak-geriknya selama ini. Febi, teman sekelasnya yang penasaran dan sengaja mengintipnya yang sedang menggambar sesuatu di atas kertas. Dan Febi tercengang ketika sesuatu keluar dari kertas itu.




Sebuah eskrim cone lezat keluar dari kertas itu, Febi mulai curiga dan buru-buru menghampiri dan menangkap basah Nana. “Hei, apa yang kamu lakukan disini Nana?” tukas Febi. Nana yang terkejut melihat Febi menghampirinya langsung membuang eskrim itu dan menyembunyikan pensil ajaib itu. “Ti...dak, tidak ada apa-apa di sini!” kata Nana dengan terbata-bata. “Beri tahu aku Nana atau aku akan beri tahukan hal ini pada teman-teman dan guru-guru di sekolah ini, aku akan beri tahu semua orang kalau selama ini kamu sudah melakukan sihir Nana” Febi mengancam Nana.Tidak, tidak Febi aku tidak melakukan apapun”, Nana khawatir Febi akan mengambil pensil itu darinya.

















Tapi sebelum Nana memberitahukan hal sebenarnya. Febi mulai menggeledah Nana dan seluruh benda yang menempel di badannya. Tidak sopan, pikir Nana. Dengan segala upaya Nana menolak Febi, namun akhirnya Febi menemukan pensil ajaib itu. “Oh... jadi selama ini, kamu menyembunyikan pensil yang merubah semua penampilan kamu dan hidup keluargamu. Kalau begitu pensil ini sekarang milikku”, kata Febi dengan penuh emosi. “Ti...tidak Febi, tolong kembalikan pensil itu!” pinta Nana. Namun, Febi malah pergi dan membawa pensil itu. Nana menangis dan pulang ke rumahnya dengan penuh penyesalan.



 






Di rumahnya, Nana masih saja menyesali hal itu. Ia mengadu pada ibunya, dan menceritakan semuanya pada ibunya. “Nana takut ibu, Febi itu tidak tahu cara menggunakan pensil itu. Nana takut Febi kenapa-napa. Nanti Nana disalahkan, Bu”. Nana terus menangis dan air matanya bercucuran begitu derasnya. “Nana hanya menggunakan pensil itu pada saat yang mendesak saja, sedangkan Febi pasti akan menggunakannya secara berlebihan. Dia itu anak yang egois, Bu. Nana takut” isaknya masih terdengar begitu keras. “Tidak sayang, tidak akan terjadi sesuatu pada Febi. Kalau kamu memang peduli padanya kamu harus memperingatkannya tentang hal ini”.


 
















Meskipun Nana tidak begitu dekat dengan Febi. Tapi Nana mengetahui watak asli Febi yang sangat egois dan serakah. Setelah mengambil pensil itu, Febi melakukan hal yang tak pernah Nana lakukan. Kebetulan Febi juga sangat pandai dalam hal melukis dan menggambar seperti Nana. Namun, Febi menggunakan pensil itu sampai di luar batas. Tidak seperti Nana yang menggunakan pensil itu untuk kebaikan. Febi menggunakan pensil itu untuk mengganggu teman-temannya dan mengikuti hawa nafsunya, bukan untuk kebaikan. Hingga suatu ketika hal yang tidak menyenangkan itu terjadi.


 














Bersama seorang temannya, yaitu Marsha. Febi mengganggu setiap anak bahkan guru yang lewat di hadapan mereka. Febi menggambar sesuatu yang sangat mengangguu teman-temannya di sekolah. Hingga suatu ketika gambar yang dibuatnya itu hidup dan malah berbalik kepada Febi dan Marsha. Ya, Febi menggambar sesosok hantu untuk menakut-nakuti Nana dan anak-anak lainnya. Malah Febi dan Marsha yang dikejar oleh hantu itu.










 



















Febi dan Marsha berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mau membantunya. Teman-temannya malah mengyumpahi Febi dan Marsha dengan kata-kata kasar, karena mereka merasa kesal dengan perbuatan Febi dan Marsha yang suka mengganggu di sekolah. “Huh, dasar kualat!”. Saat Nana mendengar kejadian itu, Nana langsung mencari Febi dan pensil ajaib itu. Karena merasa lelah dan takut, Febi dan Marsha ditemukan pingsan di halaman belakang sekolah. Sebelum warga sekolah menemukan mereka berdua, Nana lebih dulu sampai disana.



 















Nana mencari pensil itu dan pensil itu ada di genggaman tangan Febi. Ia mengambil pensil itu dan seketika pensil itu seolah hidup dan berkata pada Nana. “Hai Nana! Aku adalah pensil ajaib yang kamu temukan di dekat semak-semak saat itu. Terimakasih telah menjagaku selama ini. Tapi, janganlah kamu meniru perbuatan teman-temanmu ini. Mereka tidak menggunakanku untuk kebaikan, sehingga aku memberikan pelajaran kepada mereka. Ingat Nana! Kamu harus berusaha lebih baik untuk mendapatkan sesuatu, Febi terlalu berambisi untuk mewujudkan keinginannya, dia dan temannya itu suka mengganggu orang lain. Semoga kamu bisa jadi anak yang mandiri dan membanggakan keluargamu”.






Nana terkesima dengan hal itu. Begitu cepatnya pensil itu menghilang. Lalu Febi Marsha bangun dalam keadaan yang lemah karena dikejar-kejar oleh hantu tadi. Kemudian mereka berdua bangun dan dibantu oleh satpam sekolah. Namun, Nana masih memikirkan apa yang dikatakan pensil ajaib tadi. Dan ia teringat dengan kata-kata yang ada di kertas saat ia pertama kali menemukan pensil itu. "gunakanlah untuk kebaikan. Jika tidak, kamu akan menyesal. Dan jangan sampai pensil ini jatuh ke tangan orang yang serakah".

=T.A.M.A.T=



Amanat:
·       Kesempatan itu hanya datang sekali. Gunakanlah kesempatan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai  kau sia-siakan!
·       Berusahalah lebih baik untuk mendapatkan sesuatu
·       Janganlah suka mengganggu orang lain.
·       Jadi anak yang mandiri

-Teti Heryanti-


Cerita ini dibuat oleh:
Teti Heryanti
2017.4.5.1.00729

3 komentar:

kreatif dan semakin menginpirasi mahasiswa PIAUD IAI BBC untuk menulis.

Kalau di buat buku bagus juga tuh

Posting Komentar